Etos Kerja Dalam Islam

Etos berasal dari kata Yunani (ethos) yang berarti sikap,  watak, sifat, watak, dan keyakinan terhadap sesuatu. Sikap ini bukan hanya milik individu, tetapi juga milik kelompok bahkan masyarakat. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, etos kerja adalah semangat kerja, yang merupakan ciri khas dan keyakinan seseorang atau sekelompok orang.

Etika atau karakteristik dalam terminologi GS. Dr Ahmad Amin harus membiasakan diri dengan wasiat. Singkatnya, karakteristik adalah sikap  tetap dan mendasar yang menimbulkan tindakan mudah dalam diagram hubungan seseorang dengan dirinya sendiri dan di luar dirinya.

Dari keterangan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa kata etos berarti kepribadian, ciri-ciri seseorang atau sekelompok orang yang berupa kemauan atau kemauan yang disertai dengan ‘semangat yang tinggi’ untuk mencapai suatu keinginan atau cita-cita. . Karena etos kerja merupakan cerminan sikap fundamental terhadap kehidupan, maka etos kerja pada hakikatnya juga merupakan cerminan dari visi hidup yang berorientasi nilai dengan dimensi transenden.

Menurut KH Toto Tasmara etos kerja adalah totalitas kepribadiannya dan cara dia mengekspresikan, merasakan, mempercayai dan memberi makna pada sesuatu, yang memotivasi dia untuk bertindak dan berprestasi mendapatkan amal yang optimal. Oleh karena itu, dengan adanya etos kerja dalam diri seorang wirausahawan akan muncul dari semangat untuk menjalankan  usaha dengan sungguh-sungguh, keyakinan bahwa dengan memberikan yang terbaik, maka hasilnya juga tentu sama. Dengan etos kerja ini, dijamin kelangsungan usaha  akan terus berlanjut seiring berjalannya waktu.

Konsep Kerja dalam Islam

Istilah “bekerja” dalam Islam bukan sekedar mencari nafkah untuk  diri sendiri dan keluarga yang menghabiskan waktu siang  malam,  pagi hingga malam, tanpa kenal lelah terus menerus, tetapi bekerja mencakup segala bentuk amalan atau pekerjaan yang mengandung unsur kebaikan dan berkah. diri, keluarga dan masyarakat sekitar serta negara. Dengan kata lain, orang yang bekerja adalah mereka yang mendedikasikan jiwa dan tenaganya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan negara tanpa mengganggu orang lain. Oleh karena itu, yang termasuk kategori ahli surga seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an bukanlah orang yang menduduki jabatan/jabatan tinggi di suatu perusahaan/instansi seperti manajer, direktur, teknisi di bengkel, dll. Namun di sisi lain, Al-Qur’an menunjukkan bahwa kelompok orang yang baik dan beruntung (alfalah)  adalah mereka yang memiliki banyak ketakwaan kepada Tuhan, berdoa dengan rendah hati, berbicara dengan baik, berpandangan dan memiliki sikap yang memalukan bagi-Nya. memenuhi kewajiban sosialnya. tanggung jawab  seperti pembayaran zakat dan lain-lain (QS Al Mu’minun: 1 – 11)

Meneladani Etos Kerja Rasulullah SAW

Rasulullah SAW melakukan pekerjaan itu sebagai wujud keimanan dan ketaqwaan. Rasul bekerja agar tidak menumpuk kekayaan duniawi. Ia bekerja untuk mencapai keridhaan Allah SWT.

Suatu hari, Rasulullah SAW bertemu Sa’ad bin Mu’adz AlAnshari. Saat itu, Nabi melihat tangan Sa’ad bengkak, dan kulitnya hitam seperti  matahari.  Rasul bertanya pada Sa’ad. “Wahai Rasulullah,” Sa’ad menjawab, “Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan

cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu beliau mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka”.

Dalam cerita lain, dikatakan bahwa  seseorang sedang berjalan di tempat Nabi SAW. Orang yang sangat pekerja keras dan gesit. Kemudian para sahabat  bertanya, “Ya Rasulullah, jika pekerjaan orang seperti itu dapat digolongkan sebagai jihad, tidak apa-apa. Mendengar ini, Nabi menjawab: “Jika dia bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, itu adalah fi sabilillah; jika dia bekerja untuk menghidupi orang tuanya yang sudah lanjut usia, itu  fi sabilillah; jika dia bekerja untuk kepentingannya sendiri tanpa menuntut, itu juga fi sabilillah. (RH Ath Thabrani).

Bekerja adalah ekspresi dari tindakan saleh. Jika bekerja adalah amal saleh, maka bekerja adalah ibadah. Dan jika bekerja adalah ibadah, maka kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari kerja. Bukankah Allah SWT menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya?

Tidak berlebihan bila keberadaan seorang manusia ditentukan oleh aktivitas kerjanya.

Pembukaan cerita menunjukkan betapa  Rasulullah SAW menghargai karyanya. Pekerjaan apapun asalkan tidak menyimpang dari aturan yang telah ditetapkan oleh agama. Apresiasinya begitu besar sehingga dalam cerita pertama pria yang lebih tinggi itu “rela” mencium tangan Sa’ad bin Mu’adz AlAnshari yang bengkak dan terbakar. Rasulullah SAW, dalam dua kisah ini, memotivasi umatnya bahwa bekerja adalah perbuatan mulia dan  bagian dari jihad.

Rasulullah SAW adalah sosok yang selalu melakukan hal ini sebelum memberi perintah kepada para sahabatnya. Ini sejalan dengan tugasnya sebagai hash ushwatun; teladan yang baik bagi seluruh umat manusia. Jadi ketika kita berbicara tentang “etos kerja”, dia adalah orang yang paling cocok untuk dijadikan referensi. Dan berbicara tentang etos kerja Rasulullah SAW seperti berbicara tentang siapa dia.

Etos kerja Islami

Etos berasal dari kata Yunani (ethos) yang berarti sikap,  watak, sifat, watak, dan keyakinan terhadap sesuatu. Sikap ini bukan hanya milik individu, tetapi juga milik kelompok bahkan masyarakat. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, etos kerja adalah semangat kerja, yang merupakan ciri khas dan keyakinan seseorang atau sekelompok orang. Secara terminologis, kata etos telah mengalami perubahan makna yang signifikan.

Dalam pengertian lain, etos dapat dipahami sebagai sikap yang disengaja atau sukarela disertai dengan semangat yang tinggi untuk pencapaian tujuan yang positif. Secara umum, etos kerja berfungsi sebagai instrumen perilaku permanen untuk tindakan dan aktivitas individu. Menurut A. Tabrani Rusyan, fungsi etika kerja adalah:

  • Pendorang timbulnya perbuatan.
  • Penggairah dalam aktivitas.
  • Penggerak, seperti mesin bagi mobil besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat lambatnya suatu perbuatan .

Bekerja adalah perbuatan melakukan pekerjaan atau menurut kamus W.J.S Purwadaminta bekerja berarti mengerjakan sesuatu, sesuatu telah selesai. Kerja dalam arti luas dan sempit dalam arti luas berarti bahwa kerja mencakup segala bentuk usaha  manusia, baik material maupun immaterial, baik  intelektual maupun fisik, dalam hubungannya dengan dunia ini dan dunia selanjutnya. Padahal, dalam arti sempit, sebuah karya memiliki makna ekonomi di mana persetujuan menjadi materi. Dengan demikian, konsep karakter adalah watak seseorang atau sekelompok orang yang berupa kemauan atau kemauan untuk bekerja dengan pikiran yang tinggi untuk mewujudkan suatu cita-cita.