Logika dan Penalaran dalam Ilmu Pengetahuan

Filsafat ilmu adalah aktivitas-aktivitas perenungan-perenungan filsafati dalam upaya untuk memecahkan masalah-masalah yang timbul di sekitar hakekat ilmu, perkembangan ilmu dan penerapan ilmu.Filsafat Ilmu adalah suatu bidang studi filsafat yang obyek materinya berupa ilmu pengetahuan dalam berbagai jenis dan perwujudannya. Jadi meliputi prulalitas ilmu pengetahuan. Sementara objek formalnya yaitu berupa hakekat ilmu pengetahuan.

logika adalah suatu cabang filsafat yang membahas tentang aturanaturan, asas-sasa, hukum-hukum dan metode atau prosedur dalam mencapai pengetahuan secara rasional dan benar, juga merupakan suatu cara untuk mendapatkan suatu pengetahuan dengan menggunakan akal pikiran, kata dan bahasa yang dilakukan secara sistematis. Logika dapat disistematisasikan menjadi beberapa golongan hal tersebut tergantung dari perspektif mana kita melihatnya dilihat dari kualitasnya logika dapat dibedakan menjadi dua yakni logika naturalis ( logika alamiah) dan logika artifisialis (logika ilmiah). Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak. Sikap dan tindakannya yang bersumber pada pengetahuan yang didapatkan melalui kegiatan merasa atau berpikir. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir. Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Jadi penalaran merupakan salah satu atau proses dalam berpikir yang menggabungkan dua pemikiran atau lebih untuk menarik sebuah kesimpulan untuk mendapatkan pengetahuan baru.

 Hakekat Logika

 Menurut K. Prent C.M.T Adisubrata dalam Mundiri mengatakan bahwa logika adalah berasal daribahasa latin „logos‟ yang berarti perkataan atau sabda.Kemudian menurutnya juga istilah lain sering juga disebut mantiq, berasal dari kata arab yang diambil dari kata nataqa yang berarti berkata atau berucap. Kemudian George F. Kneller dalam buku Logic of Lenguage Education, dalam Susanto mendefinisikan logika disebut sebagai penyelidikan tentang dasar-dasar dan metode berfikir benar (correct reason). Sedangkan menrut Irving M.Copi dalam Mundiri memaknai kata logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dan penalaran yang salah. Selanjutnya hampir sejalan dengan yang dikemukakan oleh Irving, W.

Poespoprodjo dalam Susanto memberikan definisi logika yakni “Logika menunjukkan, meletakkan, menguraikan dan membuktikan hukum-hukum dan aturan-aturan yang akan menjaga kita agar tidak terjerumus dalam kekeliruan (kesetatan).[1]

 Jadi berdasarkan pada pengertian-pengertian yang telah dikemukakan oleh para ahli diatas tentang logika dapat di fahami bahwa pemahaman tentang logika adalah suatu cabang filsafat yang membahas tentang aturanaturan, asas-sasa, hukum-hukum dan metode atau prosedur dalam mencapai pengetahuan secara rasional dan benar.[2]

Kita sudah begitu sering berpikir, rasa-rasanya berpikir begitu mudah. Semenjak kecil kita sudah biasa melakukannya.[3] Setiap hari kita berdialog dengan diri kita sendiri, berdialog dengan orang lain, berbicara, menulis, membaca suatu uraian, mengkaji suatu tulisan, mendengarkan penjelasanpenjelasan dan mencoba menarik kesimpulan-kesimpulan dari apa yang kita lihat dan kita dengar. Terus-menerus sering kali hampir tanpa rasa disadari.[4]

Namun, apabila diselidiki lebih lanjut, dan terutama bila harus dipraktekkan sungguh-sungguh, ternyata bahwa berpikir dengan teliti dan tepat merupakan kegiatan yang cukup sukar juga. Manakala kita meneliti dengan seksama dan sistematis berbagai penalaran, segera akan dapat diketahui bahwa banyak penalaran tidak menyambung. Di dalam kegiatan berpikir, benar-benar dituntut kesanggupan pengamatan yang kuat dan cermat; dituntut kesanggupan melihat hubungan-hubungan, kejanggalankejanggalan, kesalahan-kesalahan yang terselubung dan lain sebagainya.[5]

Orang biasanya menganggap benar apa yang disukainya, apa yang dimauinya. Perasaan dan prasangka dapat bahkan sering mengelabui atau mengaburkan pandangan mata kita sehingga terjadi kesimpulan-kesimpulan yang ngawur. Selain itu kebiasaankebiasaan dan pendapat umum mempengaruhi jalan pikiran kita. Dalam praktek sering kali sulit untuk mengajukan alasan yang tepat, atau menunjukkan mengapa suatu pendapat tidak dapat kita terima.6

Keinsafan akan adanya kesulitan-kesulitan itu mendorong orang untuk memikirkan caranya ia berpikir, serta meneliti asasasas hukum yang harus mengatur pemikiran manusia agar dapat mencapai kebenaran. Dengan demikian timbullah suatu ilmu yang disebut logika, yang dipelopori oleh Aristoteles (348 – 322 SM) dengan karyanya yang terkenal To Organon. Logika melatih kita untuk dapat membedakan pemikiran yang tepat, lurus dan benar dari yang kacau serta salah yakni pikiran yang rompang-ramping.

Menurut Andre Ata, dkk dalam Mukhtar konsep logika atau logis sudah sering kita dengar dan kita gunakan. Dalam bahasa sehari-hari perkataan logika atau logis menunjukkan cara berpikir atau cara hidup atau sikap hidup tertentu yaitu yang masuk akal, yang wajar, yang beralasan atau berargumen, ayang ada rasionya atau hubungan-hubungan rasionalnya yang dapat dimengerti walaupun belum tentu disetujui tentang benar atau salahnya. Dapat dikatakan bahwa bahwa logika adalah kajian dalam proses penalaran yang bertolak dari penerapan prinsip berpikir dalam suatu penalaran yang tepat yang digunakan dalam membedakan yang baik dan yang benar dari penalaran yang buruk dan salah.[6]

Semua orang mengakui memiliki pengetahuan. Namun dari mana pengetahuan itu diperoleh atau lewat apa pengetahuan itu di dapat. Dari sana timbul pertanyaan bagaimana kita memperoleh pengetahuan atau dari mana sumber pengetahuan didapat. Terdapat berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh manusia untuk memperoleh pengetahuan, misalnya ia dapat melakukannya dengan jalan bertanya kepada orang lain (yang memiliki otoritas) yang dianggapnya lebih tahu, atau ia dapat melakukannya melalui indra, akal sehat, intuisi atau dengan coba-coba.[7]

Berfikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang tidak selalu sama. Oleh sebab itu, kegiatan proses berfikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar pun juga berbeda-beda. Dapat dikatakan bahwa tiap jalan pikiran mempunyai apa yang disebut sebagai kriteria kebenaran yang merupakan landasan bagi proses penemuan kebenaran tersebut. Penalaran merupakan suatu proses penemuan kebenaran dimana tiap-tiap jenis penalaran mempunyai kriteria kebenarannya masing-masing.[8]

Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak. Sikap dan tindakannya yang bersumber pada pengetahuan yang didapatkan melalui kegiatan merasa atau berpikir. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan, meskipun seperti dikatakan Pascal, hatipun mempunyai logika tersendiri. Meskipun demikian patut kita sadari bahwa tidak semua kegiatan berpikir menyandarkan diri pada penalaran. Jadi, penalaran merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.10

Agar pengetahuan yang dihasilkan dari penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan dengan suatu cara tertentu. Penarikan kesimpulan dianggap benar jika penarikan kseimpulan dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut dengan logika.[9]

 Logika Dan Ilmu Pengetahuan

 Hadiatmaja dan Kuswa Endah dalam Mukhtar menyatakan bahwa logika merupakan cabang dari filsafat ilmu yang membicarakan masalh berpikir yaitu mengikuti kaidah berpikir logis. Pembahasan dalam ilmu logika yaitu ukuran dan norma berpikir yaitu kemampuan akal budi manusia untuk mencapai kebenaran, membicarakan aturan berpikir agar dapat mengambil kesimpulan yang benar dan tepat.[10]

 Logika mempelajari masalah penalaran (reasoning) dan tidak semua kegiatan berpikir itu adalah sebuah penalaran. Kegiatan penalaran dalam logika disebut juga dengan penalaran logis. Penalaran adalah proses dari akal manusia yang berusaha untuk menimbulkan suatu keterangan baru dari beberapa keterangan yang sebelumnya sudah ada. Dalam logika, keterangan yang mendahului disebut premis, sedangkan keterangan yang diturunkannya disebut kesimpulan. Penalaran dianggap sebagai konsep kunci yang menjadi pembahasan dalam logika. Penalaran adalah suatu corak pemikiran khas yang dimiliki manusia untuk memecahkan suatu masalah.

Sehingga Suwardi Endaswara (2012) dala Muhtar terang menyatakan bahwa logika sebagai esensi dari filsafat ilmu.26 Oleh demikian dalam filsafat ilmu tidak terlepas dari logika sebagai landasan pokok pengetahuan. Sebab filsafat tanpa logika akan menemukan kegagalan dalam memaknai fenomenologi alam. Logika sememangnya esensi berfikir filsafat ilmu. Sebab filsafat tanpa logika akan kelam. Logika akan membangun kepercayaan seseorang dalam kehidupannya, dimana seseorang akan mampu untuk mengembangkan potensi dirinya jika menggunakan logika berfikir yang baik dan benar.13

Kegiatan berpikir atau akal budi manusia. Dengan berpikir dimaksudkan kegiatan akal untuk mengolah pengetahuan yang telah kita terima melalui panca indra, dan ditujukan untuk mencapai suatu kebenaran. Jadi, dengan istilah berpikir ditunjukkan suatu bentuk kegiatan akal yang khas dan terarah. melamun tidaklah sama dengan berpikir, demikian pula merasakan, pekerjaan panca indera (melihat, mendengar dan sebagainya) dan kegiatan ingatan dan khayalan, meskipun ini semua penting sekali untuk dapat berpikir (dan menghasilkan buah pikiran yang berarti). Tetapi berpikir juga berarti kegiatan kenyataan yang menggerakkan pikiran.

kenyataan yang memegang inisiatif.
Dengan kata-kata yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa berpikir adalah berbicara dengan dirinya sendiri di dalam batin yaitu mulai dari mempertimbangkan, merenungkan, menganalisa, membuktikan sesuatu, menunjukkan alasan-alasan, menarik kesimpulan, meneliti suatu jalan pikiran dan sebagainya.[11]

Manfaat Logika dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Sudah tidak dinafikan lagi bahwasanya logika sudah jelas memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Setiap orang sejak masa lampau sudah memikirkan dunia ini dengan logika. Aristoteles dan para pengikutnya memandang logika tidak dikategorikan sebagai suatu ilmu diantara ilmuilmu lain. Menurut Aristoteles logika adalah persiapan yang mendahului ilmu. Pembicaraan dan manfaat logika terus diperbincangkan dan terus.

memberikan manfaat selagi manusia masih menggunakan akal pikirannya.
Menurut Andi Hakim dalam Jujun Suriasumantri mengemukakan bahwa sekiranya hewan mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini yang dilestarikan jangan punah, melainkan manusia jawa. Kemampuan menalar ini menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaankekuasaannya.

Secara simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat Adam dan Hawa dan setelah itu manusia harus hidup berbekal pengetahuan. Dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang indah dan mana yang jelek. Manusia adalah satu-satunya mahluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Hewan juga mempunyai pengetahuan namun

pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya.[12]
Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama, maka oleh sebab itu kegiatan proses berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu-pun berbeda-beda. Menurut Jujun Suriasumantri penalaran merupakan suatu proses perpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan mahluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak.

Pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran, maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses kesimpulan terseburt dilakukan menurut cara tertentu. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, dimana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih. Terdapat bermacam-macam cara penarikan kesimpulan, namun untuk kesesuaian studi yang memusatkan diri pada penalaran ilmiah.[13]

Baik logika deduktif maupun logika induktif dalam proses penalarannya, merupakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggapnya benar. Kenyataan ini membawa kita kepada sebuah pernyataan yaitu bagaimanakah caranya mendapatkan pengetahuan yang benar. Sebenarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama mendasarkan diri pada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Disamping rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting untuk kita ketahuai adalah intuisi dan wahyu. Namun sampai sekarang ini pengetahuan yang didapatkan secara rasional dan empiris. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Intuisi bersipat personal dan tidak bisa diramalkan. Pengetahuan Intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakannya. Maslow dalam Stanley mengemukakan intuisi ini merupakan pengalaman puncak. Sedangkan bagi sendiri Nietzsche dalam George mengemukakan intuisi merupakan inteligensi yang paling tinggi.

Pengetahuan merupakan segala sesuatu yg diketahui manusia, hal tersebut adalah bahagian besar dari logika dalam perkembangan pengetahuan manusia. Suatu hal yang menjadi pengetahuan selalu terdiri atas unsur yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahui. Karena itu pengetahuan menuntut adanya subjek yang mempunyai kesadaran untuk mengetahui tentang sesuatu dan objek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai hal yang ingin diketahuinya.

Burhanuddin Salam mengklasifikasikan bahwa pengetahuan yang diperoleh manusia dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu pengetahuan biasa (common sense) yaitu pengetahuan biasa, atau dapat kita pahami bahwa pengetahuan ini adalah pengetahuan yang karena seseorang memiliki sesuatau karena menerima secara baik. Orang menyebut sesuatu itu merah karen memang merah, orang menyebut benda itu panas karena memang benda itu panas dan seterusnya. Pengetahuan Ilmu (science) yaitu ilmu pengetahuan yang bersifat kuantitatif dan objektif, seperti ilmu alam dan sebagainya. Pengetahuan Filsafat, yakni ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Pengetahuan Agama, yaitu pengetahuan yang hanya didapat dari Tuhan lewat para utusanNya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama. Jadi perbedaan antara pengetahuan dan ilmu adalah jika pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu manusia untuk memahami suatu objek tertentu, sedangkan ilmu (science) adalah pengetahuan yang bersifat positif dan sistematis.

Berfikir mensyaratkan adanya pengetahuan (Knowledge) atau sesuatu yang diketahui agar pencapaian pengetahuan baru lainnya dapat berproses dengan benar, sekarang apa yang dimaksud dengan pengetahuan ?, menurut Langeveld pengetahuan ialah kesatuan subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui, di tempat lain dia mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan kesatuan subjek yang mengetahui dengan objek yang diketahui, suatu kesatuan dalam mana objek itu dipandang oleh subjek sebagai dikenalinya. Dengan demikian pengetahuan selalu berkaitan dengan objek yang diketahui, sedangkan Feibleman menyebutnya hubungan subjek dan objek (Knowledge : relation between object and subject). Subjek adalah individu yang punya kemampuan mengetahui (berakal) dan objek adalah benda-benda atau hal-hal yang ingin diketahui. Individu (manusia) merupakan suatu realitas dan benda-benda merupakan realitas yang lain, hubungan keduanya merupakan proses untuk mengetahui dan bila bersatu jadilah pengetahuan bagi manusia.

Di sini terlihat bahwa subjek mesti berpartisipasi aktif dalam proses penyatuan sedang objek pun harus berpartisipasi dalam keadaannya, subjek merupakan suatu realitas demikian juga objek, ke dua realitas ini berproses dalam suatu interaksi partisipatif, tanpa semua ini mustahil pengetahuan terjadi, hal ini sejalan dengan pendapat Max Scheler yang menyatakan bahwa pengetahuan sebagai partisipasi oleh suatu realita dalam suatu realita yang lain, tetapi tanpa modifikasi-modifikasi dalam kualitas yang lain itu. Sebaliknya subjek yang mengetahui itu dipengaruhi oleh objek yang diketahuinya. Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang diketahui tentang objek tertentu, termasuk ke dalamnya ilmu (Jujun S Suriasumantri,), Pengetahuan tentang objek selalu melibatkan dua unsur yakni unsur representasi tetap dan tak terlukiskan serta unsur penapsiran konsep yang menunjukan respon pemikiran.[14]

Unsur konsep disebut unsur formal sedang unsur tetap adalah unsur material atau isi (Maurice Mandelbaum). Interaksi antara objek dengan subjek yang menafsirkan, menjadikan pemahaman subjek (manusia) atas objek menjadi jelas, terarah dan sistimatis sehingga dapat membantu memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. Pengetahuan tumbuh sejalan dengan bertambahnya pengalaman, untuk itu diperlukan informasi yang bermakna guna menggali pemikiran untuk menghadapi realitas dunia dimana seorang itu hidup (Harold H Titus).

Gerak sirkuler antara berfikir dan pengetahuan akan terus membesar mengingat pengetahuan pada dasarnya bersifat akumulatit, semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang semakin rumit aktivitas berfikir, demikian juga semakin rumit aktivitas berfikir semakin kaya akumulasi

pengetahuan. Semakin akumulatif pengetahuan manusia semakin rumit, namun semakin memungkinkan untuk melihat pola umum serta mensistimatisirnya dalam suatu kerangka tertentu, sehingga lahirlah pengetahuan ilmiah (ilmu), disamping itu terdapat pula orang-orang yang tidak hanya puas dengan mengetahui, mereka ini mencoba memikirkan hakekat dan kebenaran yang diketahuinya secara radikal dan mendalam, maka lahirlah pengetahuan filsafat, oleh karena itu berfikir dan pengetahuan dilihat dari ciri prosesnya dapat dibagi ke dalam Berfikir biasa dan sederhana menghasilkan pengetahuan biasa (pengetahuan eksistensial). Berfikir sistematis faktual tentang objek tertentu menghasilkan pengetahuan ilmiah (ilmu). Berfikir radikal tentang hakekat sesuatu menghasilkan pengetahuan filosofis (filsafat).

Semua jenis berfikir dan pengetahuan tersebut di atas mempunyai poisisi dan manfaatnya masing-masing, perbedaan hanyalah bersifat gradual, sebab semuanya tetap merupakan sifat yang inheren dengan manusia. Sifat inheren berfikir dan berpengetahuan pada manusia telah menjadi pendorong bagi upaya-upaya untuk lebih memahami kaidah-kaidah berfikir benar (logika), dan semua ini makin memerlukan keakhlian, sehingga makin rumit tingkatan berfikir dan pengetahuan makin sedikit yang mempunyai kemampuan tersebut, namun serendah apapun gradasi berpikir dan berpengetahuan yang dimiliki seseorang tetap saja mereka bisa menggunakan akalnya untuk berfikir untuk memperoleh pengetahuan, terutama dalam menghadapi masalahmasalah kehidupan, sehingga manusia dapat mempertahankan hidupnya (pengetahuan macam ini disebut pengetahuan eksistensial).

Berpengetahuan merupakan syarat mutlak bagi manusia untuk mempertahankan hidupnya, dan untuk itu dalam diri manusia telah terdapat akal yang dapat dipergunakan berfikir untuk lebih mendalami dan memperluas pengetahuan. Paling tidak terdapat dua alasan mengapa manusia memerlukan pengetahuan/ilmu yaitu manusia tidak bisa hidup dalam alam yang belum terolah, sementara binatang siap hidup di alam asli dengan berbagai kemampuan bawaannya dan manusia merupakan makhluk yang selalu bertanya baik implisit maupun eksplisit dan kemampuan berfikir serta pengetahuan merupakan sarana untuk menjawabnya.

Dengan demikian dapat dikatakan manfaat logika adalah pertama, melatih jiwa manusia agar dapat memperhalus jalan pemikirannya. Kedua, mendidik kekuatan akan fikiran dan mengembangkanya degan sebaikbaiknya, dengan melatih dan membiasakan mengadakan penyelidikan akan tentang cara berfikir itu sendiri. Maka dengan membiasakan latihan berfikir, manusia akan mudah dan cepat mengetahui dimana letak kesalahannya sehingga mampu berfikir cermat tepat dan lurus.[15]

Logika Deduktif dan Induktif dalam Ilmu Pengetahuan
Berfikir adalah merupakan suatu proses, proses berfikir ini disebut bernalar. Dalam bernalar biasanya manusia malakukannya dengan menggunakan berbagai macam asumsi dalam menarik kesimpulan. Dalam menarik kesimpulan maka biasanya dengan menggunakan logika berfikir dan menggunakan dua macam pendekatan atau metode yakni: metode deduktif adan induktif. Inilah merupakan keistimewaan manusia terhadap makhluk lainnya.

Setiap makluk hidup di dunia ini, manusia dan hewan, memiliki otak. Karena memiliki otak maka manusia dan hewan mampu berpikir. Karena mampu berpikir maka manusia dan hewan mampu menghasilkan pengetahuan, dimana pengetahuan ini digunakan untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Pada dasarnya hewan juga memiliki pengetahuan, namun pengetahuannya dihasilkan melalui proses berpikir tanpa penalaran, sehingga manfaat pengetahuannya sangat terbatas yaitu hanya untuk kelangsungan hidupnya. Manusia sering disebut makhluk Homo Faber yaitu makluk yang membuat alat karena berkembangnya ilmu pengetahuan tersebut memerlukan alat. Sampai sekarang manusia menuju era peradaban yang sudah lebih maju karena proses berpikir dan menggunakan sarana berpikir ilmiah.

Kemampuan menalar yang di miliki manusia menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan jauh lebih maju dari pada hewan. Bahkan manusia adalah satu-satunya makluk yang mengembangkan pengetahuannya secara sungguh-sungguh di bumi ini. Manusia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang indah dan mana yang jelek. Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.

Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan. Meskipun demikian patut kita sadari bahwa tidak semua kegiatan berpikir menyandarkan diri pada penalaran. Jadi penalaran merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran. Terdapat berbagai cara untuk melakukan penalaran, diantaranya adalah deduktif, induktif dan abduktif. Penalaran deduktif menarik kesimpulan secara logika dari premis yang diberikan. Perlu diketahui bahwa penalaran deduktif adalah mengambil kesimpulan secara logika dari premis yang tersedia. Hasilnya tidak selalu dengan fakta kebenaran yang kita ketahui. Induktif adalah mengeneralisasi atau membuat umum suatu hal dari kasus-kasus yang pernah kita lihat atau alami untuk menarik kesimpulan mengenai hal lain yang belum pernah kita lihat atau alami.

Abduktif merupakan penalaran dari sebuah fakta ke aksi atau kondisi yang mengakibatkan fakta tersebut terjadi. Metode ini digunakan untuk menjelaskan kejadian yang kita amati. Penalaran merupakan proses berpikir untuk mendapatkan pengetahuan. Supaya pengetahuan yang didapat benar maka penarikan kesimpulan harus dilakukan dengan benar atau mengikuti pola tertentu. Cara penarikan kesimpulan disebut logika. Ada dua cara penarikan kesimpulan yaitu logika induktif dan logika deduktif. Induksi merupakan cara berpikir dengan melakukan penarikan kesimpulan yang bersifat umum/general berdasarkan kasus-kasus individu atau spesifik. Kentungan kesimpulan yang bersifat umum ini yang pertama adalah ekonomis. Dan yang ke 2 bahwa kesimpulan umum ini memungkinkan proses penalaran berikutnya baik induktif maupun deduktif. Dengan demikian memungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan secara sistematis.[16]

Deduksi merupakan cara berpikir untuk melakukan penarikan kesimpulan dari peryataan umum menjadi pernyataan khusus. Penalaran deduktif menggunakan pola berpikir silogisme. Dari premis mayor dan premis minor kemudian ditarik suatu kesimpulan. Contoh : Semua makhluk membutuhkan makan – premis mayor. Budi adalah makhluk-premis minor.

Jadi Budi memiliki mata-kesimpulan.
Ketepatan penarikan kesimpulan bergantung pada kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor dan cara/keabsahan penarikan kesimpulan. Baik logika deduktif maupun induktif menggunakan pengetahuan sebagai premis-premisnya berupa pengatahuan yang dianggapnya benar. Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif untuk menyusun pengetahuannya. Premis yang digunakannya berasal dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Begitu juga dalam penelitian ilmiah terdapat dua cara penarikan kesimpulan melalui cara kerja logika yaitu adalah induktif dan deduktif. Logika induktif adalah cara penarikan kesimpulan dari kasuskasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan rasional. Logika deduktif adalah cara penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum rasional menjadi kasus-kasus yang bersifat khusus sesuai fakta di lapangan.

Dari sini kemudian muncul paham idealisme. Yaitu paham yang mengakui bahwa sudah ada prinsip yang ada jauh sebelum manusia memikirkannya. Prinsip yang sudah ada ini dapat diketahui manusia memlalui kemampuan berpikir rasionalnya. Para pemikir rasional ini cenderung subjektif, jika tidak ada konsensus yang disepakati. Karena ide tau prinsip bagi si A belum tentu sama dengan si B. Berlawanan dengan kaum rasionalis, kaum empiris mendapatkan pengetahuan melaui pengalaman yang bersifat konkret yang diperoleh lewat tangkapan pancaindera manusia. Gejala-gejal yang diamati kemudian ditelaah lebih lanjut dan mendapatkan pola tertentu setelah mendapat karakteristik persamaan dan pengulanngan .dari pengamatan. Kaum empiris menganggap bahwa dunia fisik adalah nyata karena merupakan gejala yang tertangkap panca indera.

Lebih jelasnya bahwa penalaran deduktif juga merupakan cara berfikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus, dengan demikian kegiatan berfikir yang berlawanan dengan induksi. Penarikan kesimpulan secara deduktif ini menggunakan pola berpikir yang disebut silogisme. Silogisme terdiri atas dua pernyataan dan sebuah kesimpulan. Kedua pernyataan itu disebut premis mayor dan premis minor.[17]

Penalaran deduktif merupakan salah satu cara berpikir logis dan analitis, berkat pengamatan yang semakin sestimatis dan kritis, serta makin bertambahnya pengetahuan yang diperoleh, lambat laun manusia berusaha menjawab masalah dengan cara rasional dengan meninggalkan cara irasional atau mitos. Pemecahan secara rasional berarti menggunakan rasio (daya pikir) dalam usaha memperoleh pengetahuan yang benar. Faham yang mendasarkan rasio untuk memperoleh kebenaran itu disebut faham rasionalisme. Dalam menyusun pengetahuan kaum rasionalis sering menggunakan penalaran deduktif.

Bentuk Berpikir Dan Bangunan Logika 

Berpikir menjadi salah satu karakateristik kehidupan manusia, dengan berpikir manusia akan eksis dalam kehidupannya, oleh sebab itu agar manusia senantiasa keberadaanya diakui oleh lingkungan maka dia harus berpikir mengenai dirinya dan lingkunganya. Ada 4 (empat) jenis berpikir yang dilakukan manusia (Toenlioe, 2016 : 2-5), yaitu berpikir awam, berpikir ilmah, berpikir filsafat dan berpikir religi. Yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu berpikir filsafat, namun sekilas akan dijelaskan tiga jenis berpikri lainnya selain filsafat. Berpikir awam yaitu berpikir yang dilakukan oleh orang kebanyakan, tanpa menggunakan kerangka teori atau ilmu tertentu. Kemudian berpikir ilmiah yaitu berpikir secara keilmuan. Berikutnya berpikir religi yaitu cara berpikir yang berbasis pada suatu yang diyakini sebagai kebenaran hakiki.[18]

Seperti yang dikemukakan diatas bahawa akatifitas manusia dalam menjalani kehidupan sehari-sehari selalu dihadapkan dalam aktifitas berpikir, beragam masalah datang untuk kita selesaikan dengan memikirkan cara penyelesaiannya. Keadaan berpikir sehari-hari yang dilakukan oleh manusia untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang ditemukannya menjadi ciri dari orang tersebut sedang berfilsafat. Apakah orang lapar dan kemudian berpikir untuk mencari solusi agar tidak lapar, itu juga merupakan berpikir filsafat, tentu menurut saya itu bukan ciri berfikir filsafat. Untuk menjawab seperti apa cara berpikir orang filsafat, berikut ini karakteristik cara berfikir filsafat (Latif, 2014:4) yaitu :

  1. Bersifat menyeluruh maksudnya seorang ilmuwan tidak akan pernah puas jika hanya megenal ilmu dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin mengetahui hakikat ilmu dari sudut pandang yang lain, kaitanya dengan moralitas, serta ingin yakin apakah ilmu ini membawa kebahagiaan dirinya. Hal ini akan membuat ilmuwan tidak akan merasa sombong dan mengangkuk paling hebat atau diatas langit masih ada langit, sebagaimana Socrates yang meyatakan tidak tau apa-apa.
  2. Bersifat mendasar, maksudnya sifat yang tidak begitu saja percaya bahwa ilmu itu benar, mengapa ilmu itu benar? Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri benar? Lalu benar sendiri itu apa? Seperti suatu pertanyaan yang melingkar yang harus dimulai dengan menentukan titik yang benar.
  3. Bersifat spekulatif, maksudnya menyusun sebuah lingkaran dan menentukan titik awal sebuah lingkaran yang sekaligus menjadi titik, akhirnya dibutuhkan suatu sifat spekulatif baik dari segi proses, analisis maupun pembuktiannya, sehingga dapat dipisahkan mana yang logis atau tidak.

Lebih rinci bagaimana cara berpikir filsafat dikemukakan oleh Achmadi (1995:4), yaitu sebagai berikut :

  1. Harus sistematis. Pemikiran yang sistematis ini dimaksudkan untuk menyusun suatu pola pengetahuan yang rasional. Sistematis adalah masing-masing unsur saling berkaitan satu dengan yang lain secara teratur dalam suatu keseluruhan.
  2. Harus konsepsional. Secara umum konsepsional berkaitan dengan ide atau gambaran yang melekat pada akal pikiran yang berada dalam intelektual. Gambaran tersebut mempunyai bentuk tangkapan sesuai dengan nilainya.
  3. Harus koheren. Koheren atau runtut adalah unsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian-uraian yang bertentangan satu sama lainnya. Koheren atau runtut didalamnya memuat suatu kebenaran logis.
  4. Harus rasional, yaitu unsur-unsurnya berhubungan secara logis. Artinya pemikiran filsafat harus diuraikan dalam bentuk yang logis.
  5. Harus sinoptik, yaitu pemikiran filsafat harus melihat hal-hal secara menyeluruh atau dalam keadaan kebersamaan secara integral.
  6. Harus mengarah kepada pandangan dunia. Pemikiran filsafat sebagai upaya untuk memahami semua realitas kehidupan dengan jalan meyusun suatu pandangan (hidup) dunia, termasuk didalamnya menerangkan tentang dunia dan semua hal yang berada didalamnya (dunia).

[1] Suparlan Suhartono, Sejarah Pemikiran Filsafat Modern .Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2005, 1

[2] Mukhtar Latif, Orientasi ke Arah Filsafat Ilmu . Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2014, 255256

[3] Mundiri, Logika, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2008. 1.

[4] Susanto, Filsafat Ilmu Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis,Jakarta: Bumi Aksara, 2011. 144

[5] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004 6 Hasbullah Bakri, Sistematik Filsafat, Jakarta: Widjaya. 1986. 20-21.

[6] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, Jakarta: Rineka Cipta.2010. 118

[7] Susanto, Filsafat Ilmu Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis.Jakarta: Bumi Aksara, 2013, 143

[8] Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara, 2013, 111-112. 10 Jujun S. Suriassumantri. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. 2009, 156.

[9] Jujun S. Suriassumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. 2009, 173-18

[10] Uhar Suharsaputra, Pengatar Filsafat Ilmu Jilid I .Uiversitas Kuningan, 2004 , 3-8. 13 Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia: 1984, 52.

[11] Muhtar. 261

[12] Jujun S. Suriasumantri , hal 264.

[13] Jujun S. Suriassumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. 2009, 173-181.

[14] Jujun S. Suriassumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. 2009, hal. 165.

[15] Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu. Bandung: Mulia Press, 2008, 150

[16] Suparlan Suhartono, Sejarah Pemikiran Filsafat Modern. Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2005.

[17] Uhar Suharsaputra, Pengatar Filsafat Ilmu Jilid I, Uiversitas Kuningan, 2004.

[18] Susanto, Filsafat Ilmu Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara, 2013.oleh Alfatih Geusan Pananjung A. Jakarta: Erlangga