Membangun Paradigma Dunia Moderen Terhadap Ilmu Pengetahuan

Perkembangan dunia yang dipacu dan dipicu oleh pengaruh modernisasi serta globalisasi yang berjalan secara ekstensif dan intensif . Secara ekstensif manusia sedunia terkena pengaruh dan implikasinya dan secara intensif pengaruh itu merambah ke ranah sosiokultural, menukik ke dimensi nilai-nilai . Selain dibawa menuju kepada kemajuan, manusia juga dibawa ke jurang krisis yang bermuara pada krisis pemaknaan hidup dan kehidupan. Begitu riilnya pengaruh ilmu dalam kehidupan modern sehingga Beerling menyatakan bahwa «tugu peringatan terbesar» yang telah didirikan oleh kebudayaan Barat untuk zaman modern ialah ilmu yang menguasai seluruh bidang kebudayaan, teknik, ekonomi, politik, bahkan juga kepada kesenian.

Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad Saw melalui wahyu yang diterimanya adalah«bacaan dengan nama Allah,» dan dari sudut pandang Islam itulah, membaca bukan hanya pintu menuju ilmu, akan tetapi juga cara untuk mengetahui dan menyadari Allah.

Al-Qur`an mewajibkan kaum Muslimin menundukan kekuatan-kekuatan alam untuk kebaikan ilmu murni dan terapan. Dari pandagan tersebut ilmu mempunyai dua tujuan, yakni tujuan ilahi dan tujuan duniawi. Ilmu berfungsi sebagai pertanda Allah, sebab orang yang mempelajari alam dan proses-prosesnya dengan seksama dan mendalam akan menjumpai banyak kasus yang menunjuk kepada tangan yang tidak tampak, yang membina dan mengawasi semua kejadian di dunia. Tangan itu adalah tangan yang Maha kuasa dan Maha tahu. Sejauh ini di zaman modern ilmu mengalami banyak perubahan yang signifikan , sedang agama bergerak dengan lamban sekali, karena itu terjadi ketidak harmonisan antara agama dan ilmu pengetahuan serta teknologi. Dalam ensiklopedi Agama dan filsafat dijelaskan bahwa Islam adalah agama Allah yang diperintahkan-Nya untuk mengajarkan tentang pokok-pokok serta peraturanperaturannya kepada Nabi Muhammad Saw. dan menugaskannya untuk menyampaikan agama tersebut kepada seluruh manusia dengan mengajak mereka untuk memeluknya. Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap ilmu.

Memahaman makna Modern (Modernisasi, Modernitas, dan Modernisme)

Kata modern atau istilah lain modernisasi atau disebut juga modernitas dan modernisme merupakan terminologi yang tak terpisahkan. Dalam pemaparan berikut ini akan ditunjukkan dalam hal bagaimana dikonstruksi dan direpresentasikan secara sosio-epistemik sedemikian sehingga dimungkinkan pelacakan dimensi-dimensi ideologis hegemonik di balik terminologi modernisasi, modernitas dan modernisme yang hakikatnya merupakan artikulasi pandangan dunia. Modernitas pada manusia tampak pada nilai dan spirit, sedangkan pada masyarakat akan tampak pada institusi, organisasi maupun kontrol sosial dan pada bangsa akan terbuhul dalam taraf penyejarahan serta kadar eksistensi dalam koeksistensinya dengan bangsa lain di dunia. Term modernisme merupakan “buhul mati” yang berbeda dengan modernitas sebagai “buhul balik” .

Kemutlakan buhul pada modernisme merujuk secara etimologis di satu pihak dan semantis di lain pihak. Secara etimologis, lekatan term “isme” dan modernisme mewujudkan makna selaku paham, aliran, doktrin. Modernisme adalah paham tentang cara hidup, lebih dari hanya satu paham kepolitikan, sosial, ekonomi, institusi atau organisasi. Sebagai cara hidup oleh sebab itu modernisme bersifat begitu kultural, membudaya secara desisif menggerakan pemaknaan budaya di taraf praksis.

Sebagai aliran, modernisme adalah gerakan pemikiran sebagai sebuah school of thought tentang kehidupan modern. “Sebagaimana lazimnya aliran pikiran, modernisme mempunyai ground pada alam pikiran “baik yang mewujud pada pandangan dunia atau worldview maupun pandangan hidup yang lebih preskriptif. Pada akhirnya modernisme adalah doktrin atau ajaran, yakni doktrin tentang cara hidup.

Konsep ilmu Pengetahuan

Berdasarkan kamus besar Oxford Dictionary bahwa ilmu didefinisikan sebagai aktivitas intelektual dan praktis yang meliputi studi sistematis tentang struktur dan perilaku dari dunia fisik dan alam melalui pengamatan dan percobaan

The Liang Gie mendefinisikan ilmu sebagai rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia .

Sedangkan pengetahuan adalah reaksi dari manusia atas rangsangannya oleh alam sekitar melalui persentuhan melalui objek dengan indera dan pengetahuan merupakan hasil yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan sebuah objek tertentu. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga .

Sehingga dari ilmu dan pengetahuan dari beberapa penjelasan di atas dapat diakumulasikan antara ilmu dan pengetahuan adalah aktifitas intelektual yang sistimatis untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman secara rasional dan empiris dari berbagai segi kenyataan tentang alam semesta.

Pandangan Dunia Modern Terhadap Ilmu

Pertemuan kaum muslimin dengan dunia modern, melahirkan berbagai aliran pemikiran,seperti aliran salaf dengan semboyan “Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah”, dan aliranTajdid dengan semboyan “maju ke depan bersama al-Qur’an”. Dalam kerangkan kedua aliran tersebut muncul berbagai sebutan kaum tradisionalis, modernis dan reformis. Dalam perkembangan selanjutnya, untuk menghadapi berbagai tantangan dalam bidang idiologi  pemikiran, dikalangan umat Islam berkembang pemikiran tentang sistem politik Islam, system ekonomi Islam, sistem pendidikan Islam dan sebagainya.

Dalam menghadapai dunia modern, kaum muslimin memberikan jawaban dengan berbagai bentuk yang ditandai oleh berbagai kegiatan seperti sosial, ekonomi, politik, pendidikan dan kebudayaan, baik pada tingkat lokal, regional, maupun internasional. Hal ini mendorong para ulama Islam untuk mengadakan interpretasi kembali dan formulasi kembali untuk memunculkan konsep keislamana yang relevan dengan tuntutan zaman sebagai perwujudan semboyan bahwa Islam shalihun li kulli zaman wa makan, artinya Islam itu sesuai untuk setiap saat dan tempat. Hal ini yang menandai perkembangan Islam saat ini di berbagai kawasan dunia Islam (Esposito, 1995: 13-18). Selanjutnya Harun Nasution mengharapkan agar ide agama yang membolehkan dan merestui perubahan perlu ditanamkan pada jiwa umat Islam. Juga ummat Islam perlu membedakan antara ajaran Islam yang sebenarnya dan ajaran yang bukan berasal dari Islam. Yang perlu dipertahankan adalah ajaran Islam sebenarnya, sedang ajaran yang bukan dari Islam, boleh ditinggalkan dan boleh diubah. Dengan kata lain perlu membedakan antara ajaran yang bersifat absolut dan ajaran yang bersifat merupakan tardisi yang boleh diubah (Harun Nasution,1995: 168: 169).


Koento,Wibisono.(1997).Gagasan Strategic Tentang Kultur Keilmuan Pada Pendidikan Tinggi, dalam Jurnal Filsafat, Edisi Khusus Agustus. 

Sumarna, Cecep.(2007).Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Hasbullah,H.,Juhji,J.,&Maksum, A.(2019).Strategi Belajar Mengajar Dalam Upaya Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam. Edureligia; Jurnal Pendidikan Agama Islam, 3(1), 17-24.

Hasbullah, H. (2018).Lingkungan Pendidikan dalam al-Qur’an dan Hadis. Tarbawi: Jurnal Keilmuan Manajemen Pendidikan, 4(01), 13-26. doi:10.32678/tarbawi.v4i01.1768