Teori Isu-Isu Global Manajemen Pendidikan

Pendidikan memegang peran penting dalam melahirkan manusia yang berkualitas. Sumber Daya Manusia (SDM) mempunyai posisi sentral dalam mewujudkan perubahan, Sumber Daya Manusia sangat berperan dalam menentukan kemajuan suatu negara. Walaupun negara mempunyai SDA (sumber daya alam) yang melimpah ruah tapi kalau tidak ditopang atau didukung dengan SDM yang berkualitas, negara tersebut tidak akan bisa maju. Maka banyak para ahli menyatakan bahwa SDM merupakan faktor sentral dalam suatu organisasi atau lembaga. Apapun bentuk, tujuan organisasi atau lembaga, berbagai visi dalam kepentingan manusia dalam pelaksanaan misinya dikelola dan diurus oleh manusia pula. Jadi, manusia merupakan faktor strategis dalam semua kegiatan organisasi atau lembaga.

Pendidikan selalu berkembang mengikuti dinamika kehidupan masyarakat. Dewasa ini masyarakat Indonesia sedang mengalami perubahan transisional dari masyarakat agraris ke arah masyarakat industri. Bahkan, sebetulnya telah terjadi lompatan perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat informasi. Menurut Tilaar, perubahan tersebut meniscayakan desain pendidikan memiliki relevansi dengan kebutuhan masyarakat yang terus berubah. Pendidikan harus mampu menghadapi tantangan baru sebagai konsekuensi dari dinamika zaman yang disebut era globalisasi. Dalam menghadapi tantangan tersebut, diperlukan suatu strategi baru yang solutif dan antisipatif.

Gelobalisasi

globalisasi berasal dari kata global, “world- wide; embracing the whole of group of items”,[1]  yang berarti mendunia; melingkupi seluruh kelompok materi. Globalisasi adalah kecenderungan umum terintegrasinya kehidupan masyarakat domestik/lokal ke dalam komunitas global di berbagai bidang. Jadi globalisasi dapat diartikan sebagai proses menjadikan sesuatu bersifat mendunia atau menjagat J. A. Scholte dikutip Zubaedi,[2] membagi pengertian globalisasi menjadi lima kategori:

Pertama, globalisasi sebagai internasionalisasi. Di sini, globalisasi dipandang hanya untuk menggambarkan hubungan lintas-perbatasan antara negara-negara. Menurut Hirst dan Thompson,[3] globalisasi menggambarkan pertumbuhan dalam pertukaran internasional dan saling ketergantungan. Dengan arus pertumbuhan perdagangan dan investasi modal memungkinkan ekonomi nasional bergerak melampaui ekonomi internasional (dengan entitas prinsip adalah ekonomi nasional) untuk menjadi lebih kuat – ekonomi global adalah sebuah proses di mana ekonomi nasional yang berbeda-beda diintegrasikan ke dalam sistem oleh proses dan transaksi internasional.

Kedua, globalisasi sebagai liberalisasi. Dari berbagai definisi menunjukkan bahwa globalisasi menciptakan kebebasan pasar. Menurut Jaan Art Scholte,[4] globalisasi merujuk pada proses menghilangkan pembatasan yang dikenakan pemerintah terhadap pergerakan antar negara dalam rangka menciptakan sebuah ruang terbuka, menghilangkan batas ekonomi dunia.

Ketiga, globalisasi sebagai universalisasi. Dalam hal ini, kata global digunakan untuk menunjukkan arti menjadi seluruh dunia. Ghasemi[5],  menjelaskan bahwa globalisasi adalah proses penyebaran berbagai objek dan pengalaman kepada orang-orang di seluruh penjuru bumi. Sebagai contoh dari pengertian ini adalah penyebaran komputasi, televisi, dan lain-lain.

Keempat, globalisasi sebagai westernisasi atau modernisasi. Globalisasi dipahami oleh sebagian ahli sebagai dinamisasi cara berfikir dan gaya hidup. Sebagai contoh dalam hal ini adalah struktur sosial modernitas seperti kapitalisme, rasionalisme, industrialisme, birokratisme tersebar di seluruh dunia. Biasanya menghancurkan budaya lokal dan prosesnya menjadi penentuan atas nasib masing-masing peradaban lokal.

Kelima, globalisasi sebagai deterritorialization atau sebagai penyebaran supraterritoriality. Globalisasi diartikan sebagai rekonfigurasi geografis, sehingga ruang sosial tidak lagi sepenuhnya dipetakan berdasarkan tempat teritorial, jarak teritorial dan batas wilayah. Yusuf al-Qardhawi menjelaskan globalisasi dalam perspektif ini bermakna menguasai secara politik, ekonomi, kebudayaan, dan sosio-kultural masyarakat agar sejalan dengan kepentingan Negara-negara Barat yang disponsori oleh Amerika. Penguasaan tersebut kemudian diarahkan lebih fokus lagi pada penguasaan Barat terhadap tatanan dunia Islam.[6]

Manajemen Pendidikan di Era Globalisasi

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan semakin kencangnya arus globalisasi dunia membawa dampak tersendiri bagi dunia pendidikan. Teknologi berkembang sangat pesat. Globalisasi seperti gelombang yang akan menerjang, tidak ada kompromi, kalau kita tidak siap maka kita akan diterjang, kalau kita tidak mampu maka kita akan menjadi orang tak berguna dan kita hanya akan jadi penonton saja.

Peningkatan kualitas pendidikan bagi suatu bangsa, bagai manapun mesti diprioritaskan. Sebab kualitas pendidikan sangat penting artinya, karena hanya manusia yang berkualitas saja yang bisa bertahan hidup di masa depan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk peningkatan kualitas pendidikan tersebut adalah dengan pengelolaan pendidikan dengan wawasan global.


[1] Homby, A.S,  Oxford Advancer learner Dictionary, (Great Britain : Oxford University Press, 1974) hal 366.

[2] Zubaedi, Isu-isu Baru dalam Diskursus Filsafat Pendidikan Islam dan Kapita Selekta Pendidikan Islam, Cet 1: Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2012, hal 97.

[3] Paul Hirst & GrahamThompson, Globalization in Questio, (Malden USA : Blackwell Publisher, 2000) hal 3.

[4] Jaan Art Scholte, Globalization; A Critical Introduction, (New York: Palgrave Macmillan, 2000), hal. 16.

[5] Hakem Ghasemi, Globalization and International Relations: Actors Move from Non-cooperative to Cooperative Games, (Iran : IKIU, 2012). Hal. 3

[6] Yusuf al Qaradhawi, Ummatuna Baina Qarnain, (Beirut: Daar Asy Syuruq, 1421 H), hal. 21.